Minggu, 12 Februari 2017

PEDAGOGY OF THE OPRESSED : Melihat Pendidikan Sebagai Upaya Pembebasan


Pedagogy of The Opressed merupakan sebuah karya berpengaruh dari seorang filsuf kelahiran Brazil, Paulo Freire. Bagi sebagian orang nama Paulo Freire mungkin sudah tidak asing lagi. Dia lahir pada tanggal 19 September 1921 di wilayah miskin di Kota Pelabuhan Recife, Brazil. Latar belakang keluarga dan lingkungan sosialnya yang cukup memprihatinkan membentuk daya refleksinya yang kuat terhadap realitas. Dengan kondisi apa adanya, Freire melanjutkan studinya di Universitas Recife dengan mengambil studi hukum.

Pada tahun 1944 Freire menikah dengan Elza Maia Costa, soerang guru sekolah dasar di Recife. Sejak saat itu perhatiannya terhadap teori-teori pendidikan mulai tumbuh. Bahkan Dia lebih banyak membaca tentang pendidikan ketimbang ilmu hukum yang baginya hanya membuatnya menjadi mahasiswa rata-rata saja. Pasca kelulusan studinya menjadi sarjana hukum, Dia justru menjadi Direktur Bagian Pendidikan dan Kebudayaan SESI (Pelayan Sosial) di negara bagaian Pernambuco. Pengalaman tersebut membawa Freire kontak langsung dengan masyarakat miskin kota yang sangat memengaruhi penelitian-penelitiannya dalam menngembangkan metode dialogik dalam pendidikan.

Pada bagian pertama buku ini, Freire mencoba membahas pentingnya pendidikan bagi kaum tertindas. Kaum tertindas selama ini mengalami proses dehumanisasi yang begitu panjang sehingga membentuk mental tertindas dan takut akan kebebasan. Untuk mengatasi situasi penindasan, manusia pertama kali harus secara kritis mengenali sumber penyebab penindasan tersebut. Kemudian mereka harus melakukan perubahan dimana mereka menciptakan situasi baru yang memungkinkan terciptanya manusia yang lebih utuh. Dengan adanya pendidikan bagi kaum tertindas, diharapkan kaum tertindas dapat mengetahui situasi yang mereka hadapi sekarang. Akan tetapi yang perlu menjadi catatan di sini pendidikan bagi kaum tertindas sebagai sebuah upaya humanisasi haruslah dilaksanakan secara humanis.

 Pendidikan kaum tertindas, sebagai pendidikan para humanis terdiri dari dua tahap. Pada tahap pertama, kaum tertindas membuka tabir dunia penindasan dan melalui praksis melibatkan diri untuk mengadakan perubahan. Pada tahap kedua, dimana realitas penindasan itu sudah berubah, pendidikan ini tidak lagi menjadi milik kaum tertindas tetapi menjadi pendidikan untuk seluruh manusia dalam proses mencapai kebebasan yang langgeng.[1] Dari penyataan tersebut dapat disimpulkan bahwasanya prinsip mendasar dari Pendidikan Kaum Tertindas ialah humanisme, keadilan, dan kasih sayang.

Pada bagian kedua, Freire mengkritisi sistem pendidikan yang selama ratusan tahun digunakan oleh umat manusia. Dia menyebut sistem pendidikan tersebut sebagai sistem pendidikan gaya bank. Freire menyatakan, “pendidikan yang dialami oleh “kaum-kaum tertindas” selama ini tak ubahnya seperti pendidikan dengan “sistem bank”. Dalam pendidikan “sistem bank”, dimana ruang gerak yang disediakan bagi kegiatan para murid hanya terbatas pada menerima, mencacat, dan menyimpan.[2] Dalam sistem pendidikan gaya bank, murid dan guru memiliki kedudukan yang berbeda. Guru berperan sebagai subjek yang menarasikan realitas kepada murid sebagai objek. Padahal, bagi Freire seharusnya sistem pendidikan tidaklah demikian. Dalam “Metode pendidikan hadap masalah” Freire, guru dan murid seharusnya sama-sama menjadi subjek. Sedangkan realitas atau permasalahan merupakan objek yang dipelajari untuk ditindaklanjuti. Pada sistem pendidikan seperti demikian terjadi proses dialogis antara guru dan murid. Keduanya dapat saling belajar dan mengkritisi secara dua arah untuk menghasilkan sintesis kesimpulan yang tajam. Tidak seperti pada pendidikan gaya bank yang bersifat satu arah.

Pada bagian ketiga dan keempat,  Ferire mempertegas kembali konsepsi dialogika dan antidialogika. Dalam dialogika yang harus pertama kali dilakukan adalah menghilangkan dikotomi antara verbalisme dan aktivisme, antara teori dan praksis. Dikotomi yang manapun menciptakan keberadaan dan bentuk pemikiran yang tidak otentik. Manusia tidak diciptakan dalam kebisuan, tetapi dalam kata, dalam karya, dalam tindakan refleksi. Dialog merupakan bentuk perjumpaan di antara sesama manusia, dengan perantara dunia, dalam rangka menamai dunia. Oleh karena itu dialog merupakan sebuah kebutuhan eksistensial. Dengan adanya dialog diharapkan tidak ada lagi keadaan dimana  satu orang aktif  menabungkan gagasannya kepada orang lain, sementara yang lain cuma pasif menerima apa yang diberikan orang lain kepada dirinya. Sementara itu sebagai lawan dari dialogika, yaitu antidialogika, dijelaskan sebagai sebuah model pendidikan yang selalu berupaya menguasai manusia lainnya. Hal tersebut bersebrangan dengan pendidikan dialogis yang bersifat kooperatif.
                Pendidikan hadap masalah yang dicetuskan oleh Freire bagaimanapun juga banyak memengaruhi perkembangan teori dan praktik pendidikan di dunia khususnya di Amerika Latin. Pendidikan alternatif tersebut dapat dikontekstualisasikan kepada banyak masyarakat khususnya masyarakat marjinal di negara-negara dunia ketiga, tak terkecuali di Indonesia. Sistem pendidikan alternatif yang dicetuskan oleh Freire pada suatu saat nanti bisa jadi menggantikan sistem pendidikan nasional yang bersifat top-down dan kurang membangun kearifan lokal dalam kurikulum yang diajarkan di sekolah. Pada praktiknya, sebagai sebuah contoh, seolah-olah dari Sabang sampai Merauke, baik di wilayah perkotaan maupun desa pedalaman mengetahui benda-benda berteknologi canggih yang mungkin hanya diakses oleh anak-anak di wilayah perkotaan. Padahal memasukkan imajinasi tentang sebuah benda berteknologi  yang tidak aksesibel bagi anak-anak di wilayah pedalaman merupakan sebuah bentuk potensi kekerasan dalam kurikulum. Mereka tidak diarahkan untuk mendeskripsikan dan mengkritisi realitas yang ada di sekitar mereka. Akan tetapi justru diarahkan untuk membayangkan konsepsi-konsepsi besar yang tidak lekat dengan keseharian mereka.

Sumber : Freire, Paulo. 2008. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia


[1] Freire, Paulo. 2008. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia, 27-28
[2] Ibid, 52

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© BUKAMATA
Maira Gall