Rabu, 21 Desember 2016

Ketika Ibumu Bertanya Tentang Rencana Hidup (?)


Saya baru saja melalui proses-proses yang cukup panjang dengan mengikuti pemira fisip ui dan mencalonkan diri sebagai ketua bem fisip ui 2017. Proses-proses tersebut menyita cukup banyak tenaga dan perhatian. Dan tentunya adapula hal-hal  yang dikorbankan. Salah satunya adalah waktu berkumpul bersama keluarga, khususnya ibu saya, tempat saya biasa berbagi cerita.

Pasca pemira usai dan membuahkan hasil terpilihnya saya sebagai ketua bem fisip ui 2017, saya memutuskan untuk lebih sering pulang ke rumah sebelum nantinya akan jarang pulang lagi. Wajar saja, dengan jarak rumah-kampus yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam, saya tidak pulang hampir 3 minggu. Tentunya di sini saya perlu berupaya adil. Ada peran yang saya ambil di kampus, tapi adapula peran yang tidak bisa saya tinggalkan di rumah, sebagai anak. Apalagi saat ini ibu saya tinggal sendiri di rumah sebab ayah saya mencari nafkah di kalimantan, dan adik saya menuntut ilmu di pesantren. Tentunya, dorongan pulang ke rumah semakin menguat. Setelah penghitungan suara usai, alhamdulillah saya terpilih sebagai ketua BEM FISIP UI 2017. Tentunya kabar baik itu tak lupa untuk saya bawa pulang ke rumah. Setelah 3 minggu, akhirnya saya pulang.

Suatu hari, saya dan ibu saya sampai pada obrolan tentang rencana hidup pasca kuliah. Suatu tema obrolan yang sangat jarang sekali kami bicarakan. Biasanya kami hanya bicara soal obrolan-obrolan ringan atau berita apa yang sedang hangat di televisi. Mungkin ini disebabkan momentum yang pastinya berpengaruh bagi hidup saya ke depan setelah saya membawa kabar terpilihnya saya sebagai Ketua BEM FISIP.

Dari pertanyaan tentang rencana hidup, saya mulai dengan jawaban pasca BEM. Saya katakan bahwa pasca kehidupan BEM nanti sambil menyusun skripsi saya berniat kembali ke pesantren. Ya, saya berniat untuk masuk pesantren mahasiswa di daerah kutek. Saya ingin mengisi kehidupan masa akhir di kampus dengan me-refresh kembali ilmu-ilmu yang sudah saya dapat selama berkuliah dan yang saya dapat dari pesantren. Saya ingin memperdalam kembali kitab kuning dengan mempelajari nahwu-sharaf. Begitupun pelajaran-pelajaran seperti Fiqih, Aqidah, ulumul quran, dan hadits. Saya juga berniat mendalami tasawuf. Tak lupa, saya juga harus merangkai kembali puzzle-puzzle hafalan quran yang barangkali tercecer. Syukur-syukur kalau bisa bertambah.

Saya jelaskan alasan saya tentang rencana tersebut kepada ibu saya. Saya bilang, sekarang usia saya sudah menginjak kepala dua. Saya perlu berpikir lebih jauh dan lebih matang lagi. Mempersiapkan hidup bukan hanya mempersiapkan secara lahir, tetapi juga mempersiapkan batin. Dan hingga saat ini saya merasa pesantren adalah tempat yang tempat untuk menempa keduanya. Rasulullah pernah berpesan, “I’mal liddunnyaka kaannaka ta’isyu abadan, wa’mal liakhirotika kaannaka tamuutu ghodan.” Intinya, bekerja untuk dunia dan akhirat membutuhkan keseimbangan.

Saya kira, ketika saya melebur ke masyarakat maupun keluarga besar nanti, pertanyaan dan permintaan pertama mereka bukanlah hal-hal terkait ilmu bisnis maupun sosial-politik yang saya pelajari di kampus. Bukan berupa teori-teori dan konsep-konsep besar yang dipelajari oleh seorang akademisi. Lebih sederhana dari itu semua, mungkin mereka akan bertanya "Mas bisa jadi imam?Mas bisa mimpin doa? Mas bisa ngajar ngaji?". Bisa jadi juga itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang pertama kali keluar dari calon mertua saya kelak. 

Alasan saya kembali ke pesantren juga didorong oleh imajinasi tentang sosok ayah saya sebagai teladan. Bagi saya beliau adalah sosok yang pantas dan patut diteladani. Meskipun beliau bukan benar-benar hasil didikan pesantren, namun beliau mendidik keluarga kami dengan ilmu, iman, dan amal. Dan begitulah kelak yang saya inginkan jika saya kelak menjadi seorang ayah. Bagaimana bisa saya mengajak anak saya shalat ke masjid kalau saya tidak memberi contoh kepada mereka untuk melakukan itu. Bagaimana bisa saya menyuruh anak saya mengaji kalau saya tidak melakukan itu. Dan semua itu butuh kesadaran, butuh latihan dan pembiasaan.

Dan saya merasa skak-mat ketika ibu saya bertanya “Ngomong-ngomongin keluarga, emang udah calonnya?”

Sambil tertawa saya menjawab, “Insya Allah udah ada dalam bayangan. Namanya kita manusia ngga bisa berencana tapi ngga bisa menentukan. Tapi jodoh itu perlu diikhtiarkan.”

Lalu ibu saya menjawab, “Yang penting mau pake agama, mau belajar. Karena dia yang nantinya bakalan lebih banyak ngedidik anak. Yang penting ngga neko-neko.”

Dan obrolan tentang rencana hidup ini berakhir dengan nenbuat otak saya terus berpikir.


Tidak ada komentar

Posting Komentar

© BUKAMATA
Maira Gall