Rabu, 21 Desember 2016

Ketika Ibumu Bertanya Tentang Rencana Hidup (?)


Saya baru saja melalui proses-proses yang cukup panjang dengan mengikuti pemira fisip ui dan mencalonkan diri sebagai ketua bem fisip ui 2017. Proses-proses tersebut menyita cukup banyak tenaga dan perhatian. Dan tentunya adapula hal-hal  yang dikorbankan. Salah satunya adalah waktu berkumpul bersama keluarga, khususnya ibu saya, tempat saya biasa berbagi cerita.

Pasca pemira usai dan membuahkan hasil terpilihnya saya sebagai ketua bem fisip ui 2017, saya memutuskan untuk lebih sering pulang ke rumah sebelum nantinya akan jarang pulang lagi. Wajar saja, dengan jarak rumah-kampus yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam, saya tidak pulang hampir 3 minggu. Tentunya di sini saya perlu berupaya adil. Ada peran yang saya ambil di kampus, tapi adapula peran yang tidak bisa saya tinggalkan di rumah, sebagai anak. Apalagi saat ini ibu saya tinggal sendiri di rumah sebab ayah saya mencari nafkah di kalimantan, dan adik saya menuntut ilmu di pesantren. Tentunya, dorongan pulang ke rumah semakin menguat. Setelah penghitungan suara usai, alhamdulillah saya terpilih sebagai ketua BEM FISIP UI 2017. Tentunya kabar baik itu tak lupa untuk saya bawa pulang ke rumah. Setelah 3 minggu, akhirnya saya pulang.

Suatu hari, saya dan ibu saya sampai pada obrolan tentang rencana hidup pasca kuliah. Suatu tema obrolan yang sangat jarang sekali kami bicarakan. Biasanya kami hanya bicara soal obrolan-obrolan ringan atau berita apa yang sedang hangat di televisi. Mungkin ini disebabkan momentum yang pastinya berpengaruh bagi hidup saya ke depan setelah saya membawa kabar terpilihnya saya sebagai Ketua BEM FISIP.

Dari pertanyaan tentang rencana hidup, saya mulai dengan jawaban pasca BEM. Saya katakan bahwa pasca kehidupan BEM nanti sambil menyusun skripsi saya berniat kembali ke pesantren. Ya, saya berniat untuk masuk pesantren mahasiswa di daerah kutek. Saya ingin mengisi kehidupan masa akhir di kampus dengan me-refresh kembali ilmu-ilmu yang sudah saya dapat selama berkuliah dan yang saya dapat dari pesantren. Saya ingin memperdalam kembali kitab kuning dengan mempelajari nahwu-sharaf. Begitupun pelajaran-pelajaran seperti Fiqih, Aqidah, ulumul quran, dan hadits. Saya juga berniat mendalami tasawuf. Tak lupa, saya juga harus merangkai kembali puzzle-puzzle hafalan quran yang barangkali tercecer. Syukur-syukur kalau bisa bertambah.

Saya jelaskan alasan saya tentang rencana tersebut kepada ibu saya. Saya bilang, sekarang usia saya sudah menginjak kepala dua. Saya perlu berpikir lebih jauh dan lebih matang lagi. Mempersiapkan hidup bukan hanya mempersiapkan secara lahir, tetapi juga mempersiapkan batin. Dan hingga saat ini saya merasa pesantren adalah tempat yang tempat untuk menempa keduanya. Rasulullah pernah berpesan, “I’mal liddunnyaka kaannaka ta’isyu abadan, wa’mal liakhirotika kaannaka tamuutu ghodan.” Intinya, bekerja untuk dunia dan akhirat membutuhkan keseimbangan.

Saya kira, ketika saya melebur ke masyarakat maupun keluarga besar nanti, pertanyaan dan permintaan pertama mereka bukanlah hal-hal terkait ilmu bisnis maupun sosial-politik yang saya pelajari di kampus. Bukan berupa teori-teori dan konsep-konsep besar yang dipelajari oleh seorang akademisi. Lebih sederhana dari itu semua, mungkin mereka akan bertanya "Mas bisa jadi imam?Mas bisa mimpin doa? Mas bisa ngajar ngaji?". Bisa jadi juga itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang pertama kali keluar dari calon mertua saya kelak. 

Alasan saya kembali ke pesantren juga didorong oleh imajinasi tentang sosok ayah saya sebagai teladan. Bagi saya beliau adalah sosok yang pantas dan patut diteladani. Meskipun beliau bukan benar-benar hasil didikan pesantren, namun beliau mendidik keluarga kami dengan ilmu, iman, dan amal. Dan begitulah kelak yang saya inginkan jika saya kelak menjadi seorang ayah. Bagaimana bisa saya mengajak anak saya shalat ke masjid kalau saya tidak memberi contoh kepada mereka untuk melakukan itu. Bagaimana bisa saya menyuruh anak saya mengaji kalau saya tidak melakukan itu. Dan semua itu butuh kesadaran, butuh latihan dan pembiasaan.

Dan saya merasa skak-mat ketika ibu saya bertanya “Ngomong-ngomongin keluarga, emang udah calonnya?”

Sambil tertawa saya menjawab, “Insya Allah udah ada dalam bayangan. Namanya kita manusia ngga bisa berencana tapi ngga bisa menentukan. Tapi jodoh itu perlu diikhtiarkan.”

Lalu ibu saya menjawab, “Yang penting mau pake agama, mau belajar. Karena dia yang nantinya bakalan lebih banyak ngedidik anak. Yang penting ngga neko-neko.”

Dan obrolan tentang rencana hidup ini berakhir dengan nenbuat otak saya terus berpikir.


Selasa, 04 Oktober 2016

bukan sekedar pesta hidup

Cinta bukanlah sekedar pesta-pesta hidup

Dalam memahami keintiman hasrat untuk dibelai dan dipeluk erat

Ia adalah kasih sayang saat dunia meminta disetubuhi

Mencapai titik puncak saat orgasme menjawab segala tanya yang baru ia tahu saat itu juga

Rangsangan dan erotika misteri hidup membuat kita tak ingin usai dan meninggalkannya begitu saja

Sebelum kembali mencapai titik orgasme yang memuaskan hasrat keingintahuan kita

-Lakon Hidup

Sabtu, 01 Oktober 2016

Sebuah Surat Berisyarat

Tulisan ini tidak dibuat dengan keseriusan. Tulisan ini tidak dibuat berdasarkan keabsahan data maupun keketatan berpikir dan  sistematika penalaran. Tulisan ini hanya berupa ocehan, dumelan, dan katarsis perasaan yang tak tertumpahkan.

Saya ingin bercerita tentang dan kepada puan. Dengan kesungguhan dan membunuh keangkuhan, saya menyatakan kalau saya jatuh hati kepada puan. Saya pun tidak tahu persis atau pura-pura lupa tepatnya sejak kapan. Yang jelas sekarang saya sedang dalam keadaan mencintai puan.

Puan begitu menawan, membuat mata saya terbutakan. Membuat saya bersemangat seakan memberi energi terbarukan. Tapi saya sadar kalau-kalau berlebihan bisa juga membahayakan. Kalau tidak saya, ya kita hancur berantakan.

Sebetulnya saya bingung perihal apa yang harus dan akan saya lakukan. Saya kesulitan untuk mengerti apa yang sebetulnya puan inginkan. Sikap dan tindakan puan seperti menujam saya dengan ribuan pisau pertanyaan. Apakah puan bisa merasakan apa yang saya rasakan? Tolonglah puan, jangan buat saya terus dihinggapi rasa ketakutan. Jangan biarkan saya pada akhirnya mati kebingunan.

Sekiranya puan berkenan, puan bisa membalas surat ini dengan cara puan. Jika tidak, sampaikan saja salam puan kepada angin yang berhembus, debu-debu beterbangan, atau burung-burung yang berkicauan. 

Senin, 22 Agustus 2016

Serba Sulap


Kita hidup di zaman serba sulap
Pendidikan kita sulap menjadi sekolah
Agama kita sulap menjadi masjid dan gereja
Kitab suci kita sulap menjadi kumpulan fatwa
Preman-preman kita sulap menjadi polisi dan tentara
Makelar-makelar kita sulap menjadi jaksa dan pengacara
Anak kecil kita sulap menjadi dewasa
Perampok kita sulap menjadi pengusaha
Teori dan opini kita sulap menjadi diktum metoda
Desa kita sulap menjadi kota
Ladang dan sawah kita sulap menjadi  lantai marmer dan aspal jalan raya
Hutan rimba kita sulap menjadi hutan menara
Realita hidup kita sulap menjadi panggung sandiwara
Sekolah dan universitas kita sulap menjadi pabrik robot-robot bernyawa
Dan inilah zaman kita, zaman penuh bencana
Menghasilkan penyulap-penyulap
Yang terjebak hakikat kosong berwujud nyata

-Lakon Hidup

Jumat, 29 Juli 2016

MENALAR TUHAN : SEBUAH UPAYA PERTANGGUNGJAWABAN KEYAKINAN


Sebuah Ulasan Buku Menalar Tuhan Karya Franz Magnis Suseno

Manusia merupakan makhluk berakal. Dengan akalnya, manusia berpikir dan mempertanyakan segala hal yang ingin diketahuinya. Kecenderungan dan hasrat manusia untuk selalu bertanya dan mengetahui lebih jauh merupakan sebuah hal yang alami. Setidaknya terdapat dua alasan mendasar yang membuat manusia selalu bertanya dan ingin mengerti lebih jauh, yaitu dengan mengetahui manusia bertindak dan wawasan manusia yang tak terbatas meskipun pengetahuannya terbatas. Manusia terdorong untuk selalu bertanya karena ingin mencapai pengetahuan yang lebih benar dan lebih benar lagi.  

Salah satu sasaran dari hasrat penasaran manusia ialah Tuhan. Manusia berhasrat besar dan untuk mengetahui pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Berkaitan dengan hal tersebut maka pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan tuhan kemudian muncul. Maka, lahirlah filsafat ketuhanan yang merupakan pemikiran objektif, sistematik, dan mendasar tentang Tuhan. Seperti filsafat pada umumnya filsafat ketuhanan juga merupakan ilmu yang memastikan, menata, dan mengembangkan pengetahuan tentang tuhan secara objektif dan sistematik.

Pertanyaan tentang tuhan tentunya bukan barang baru. Ribuan tahun manusia berada dalam kondisi percaya akan tuhan dalam berbagai bentuk. Seiring dengan berkembangnya filsafat, dalam 300 tahun terakhir terjadi perkembangan budaya baru. Sejak abad 17-18 filsafat menjadi sangat kritis terhadap agama. Pertentangan pemikiran dan skeptisme yang tinggi atas Tuhan seakan menyingkirkan filsafat ketuhanan dari wacana filsafat. Diawali dar lahirnya ateisme yang meniadakan tuhan, kemudian secara diam-diam banyak filosof yang tidak lagi bicara tentang tuhan. Immanuel Kant punya andil besar melalui pernyataannya “Tuhan tidak menjadi objek pengetahuan manusia, jadi nalar tidak dapat mengetahui papaun tentangnya” yang membuat skeptisme terhadap adanya Tuhan semakin menjadi.

Akan tetapi dalam proses pertempuran pemikiran yang sangat panjang, ateisme sendiri bisa dianggap out of date sebab tidak dapat membutktikan ketidakadaan Tuhan. Pada akhirnya, filsafat modern terkesan menyerah dan menjadikan ketuhanan sebagai wacana keyakinan individu. Di lain pihak, dalam menjawab ateisme reaksi yang muncul dari orang-orang beragama sendiri justru semakin menolak pemikiran rasional tentang tuhan. Sikap yang menolak pemikiran rasional tentang Tuhan tersebut disebut dengan fideisme yang tentunya cenderung dengan fundamentalisme keimanan.

Melihat adanya aksi-reaksi tersebut kita perlu mencari titik terang untuk sebuah proses pencarian kebenaran. Orang yang percaya kepada Tuhan tidak dapat percaya asal percaya, tetapi juga mempertanggungjawabkan keimanannya secara rasional. Begitu juga dengan kaum ateis yang perlu melihat duduk permasalahan secara lebih objektif dan rasional bukan sekedar didasari atas pertimbangan ideologis. Pertanggungjawaban keimanan atau keyakinan secara rasional tersebut dapat melalui dua jalan, yaitu secara teologis dan filosofis. Keimanan secara teologis dapat dipertanggungjawabkan apabila dapat ditunjuk bahwa apa yang diimani serta kehidupan yang dijalani berdasarkan iman itu adalah sesuai dengan sumber iman itu tergantung agama yang dianut. Sementara itu pertanggungjawaban keimanan secara filosofis dapat ditunjukkan dengan rasionalitas iman menggunakan penalaran yang berfungsi untuk memeriksa keyakinan dari berbagai sudut.

Skeptisme tentang ketuhanan bisa dikatakan sangat berkaitan dengan modernitas. Dark Age di Eropa dengan abuse of power-nya gereja merupakan sebuah periode yang kelam dan mendorong setiap orang ingin mengakhirinya. Seiring dengan berkembangnya zaman, dimulai dari munculnya biji-biji wawasan baru di eropa seperti humanisme dan renaissance, mulai terjadi banyak perubahan dalam paradigme pemikiran. Masyarakat eropa saat itu mulai bertolak dari paradigme teosentris menuju antroposentris. Sejak saat itu muncullah istilah abad pencerahan yang ditandai dengan menguatnya rasionalisme , paham kemajuan, dan saintisme yang dianggap membebaskan manusia dari belenggu agama.

Seiring dengan berkembangnya budaya pemikiran yang mendasari rasionalisme dan saintisme sebagai titik utama, skeptisme terhadap ketuhanan dan agama semakin menguat. Kaum beragama mendapat tantangan besar dengan muculnya ateisme maupun agnositisme. Beberapa pemikiran ateisme filosofis yang terkenal muncul dari tokoh-tokoh seperti Feuerbach, Karl Marx, Nietzsche, Sigmund Freud, dan Sartre. Dalam buku ini, Franz Magnis Suseno mencoba untuk menanggapi dan memberikan pertimbangan-pertimbangan lain sekaligus menentang argumentasi para kritikus tersebut. Dapat disimpulkan kritik ateisme gagal karena dua hal :
  1. Kegagalan untuk membuktikan ataupun memberikan pendasaran objektif dan meyakinkan bahwa Allah tidak mungkin ada karena semua filosof tersebut tidak menyinggung pertanyaan fundamental itu.
  2. Kegagalan untuk mebebrikan penjelasan meyakinkan tentang fenomen agama. Ateisme seharusnya memberikan penjelasan mengapa manusia percaya pada Allah dan bersedia mengatur seluruh hidup sesuai dengan kepercayaan itu kalau tidak ada Allah. Argumentasi-argumentasi mereka seperti Feuerbach(agama: proyeksi hakekat manusia yang terasing), Marx(agama khayalan manusia tertindas), Nietzsche(agama pelarian manusia dari dirinya sendiri), Freud(agama: neurosis kolektif akibat kegagalan manusia dalam mengakomodasi dorongan-dorongan batin dan realitas  secara wajar), dan Sartre(agama; akibat ketakutan manusia terhadap kebebasannya) dianggap tidak tahan uji.

Berkaitan dengan pandangannya menyoal ateisme filosofis, Romo Magnis menyatakan bahwasanya ateisme-ateisme abad 19-20 bersifat ideologis dan bukan ilmiah. Dengan alasan-alasan ideologis tersebut orang tidak mau bahwa ada Tuhan dan oleh karenanya mereka mengkonstruksikan teori yang mau membuktikannya. Oleh karena itu tidaklah heran kalau kalangan ateisme, apalagi materialisme berpendapat bahwa segala apa yang ada merupakan benda fisiko-kimia atau berasal daripadanya.

Selanjutnya pada abad 20, budaya pemikiran baru pun muncul. Tuhan dianggap berada di luar cakupan filsafat sehingga hal adanya tuhan tidak dapat diketahui secara filosofis. Pandangan tersebut disebut dengan agnositisme. Di satu pihak agnositisme lebih toleran daripada ateisme. Agnosistisme tidak menolak adanya Tuhan bahkan menganggap penyangkalan adanya Tuhan merupakan tindakan ketinggalan zaman. Tetapi di lain pihak agnositisme tidak mengakui rasionalitas wacana Tuhan. Orang boleh percaya kepada Tuhan, tetapi hal tersebut tidak boleh lebih dari sekedar selera pribadi. Agama tidak boleh menjadi klaim kebenaran. Kepercayaan religius dianggap hanya menjadi unsur dalam estetika jiwa.

Dalam bahasan mengenai agnositisme, Romo Magnis kembali menjawab argumentasi-argumentasi para kritikus ketuhanan. Setidaknya, ada empat model agnositisme filofosis yang masing-masing argumennya dijawab secara logis. Keempat model tersebut adalah epistemologi Kant yang menyangkal bahwa orang dapat mengetahui sesuatu tentang Tuhan, Positivisme logis yang menyangkal makna wacana metafisik dan etika, penerapan falsifikasi Popper pada hal ketuhanan oleh Antony Flew, dan penolakan kemungkinan sebuah pendasaran akhir oleh Hans Albert.

Selain menjawab tantangan-tantangan atas wacana Tuhan, dalam Menalar Tuhan Romo Magnis juga menjelaskan pertimbangan-pertimbangan yang mengarahkan kepada bukti eksistensi Tuhan sangat masuk akal yang disebut dengan Jalan-jalan ke Tuhan. Penalaran Jalan-jalan ke Tuhan dilakukan melalui pembuktian ontologis, perubahan pandangan tentang realitas terbatas ke realitas mutlak, serta argumentasi tentang keterarahan alam. Selain itu di bagian lain Jalan-jalan ke Tuhan mencoba dicari melalui penalaran tentang kebebasan manusia dan implikasinya, argumentasi tentang eksistensi manusia, serta penjelasan tentang posisi manusia yang berhadapan dengan tuntutan mutlak dalam kesadaran moral.


Pada akhirnya, perjalanan sebuah filsafat keimanan yang mau menelurusi jejak-jejak Tuhan menemui batasnya. Akan tetapi hal tersebut bukanlah menjadi suatu alasan akan berakhirnya pertanyaan-pertanyaan manusia tentang Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan dan penalaran atas Tuhan harus terus ada sebab Tuhan memberikan daya nalar manusia untuk digunakan. Imam tidak seharusnya berada pada posisi yang bertentangan dengan pengertian. Antara keimanan dan pengertian justru bisa saling mendukung, Fides Quares Intellectum. Filsafat bisa mengikuti pertimbangan-pertimbangan agama sebagai pendukung. Begitupun agama yang tidak perlu memusuhi penalaran filsafat tetapi justru bisa mengantarkannya kepada dimensi yang lebih dalam. Kalau Allah bisa menjadi pertanyaan, Allah juga bisa menjadi jawaban. 

Sumber : 

Suseno, Franz Magnis. 2006. Menalar Tuhan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Lagu Kita Masih Sama : Indonesia Raya


Minggu, 24 Juli 2016

FISIP MASUK DESA : Belajar Dari Desa


Tridharma perguruan tinggi sebagai sokoguru pendidikan tinggi di Indonesia mengajarkan nilai pengabdian kepada masyarakat selain pendidikan dan penelitian. Nilai tersebut tentunya memiliki bentuk penerapan yang berbeda-beda di tiap universitas atau perguruan tinggi baik swasta maupun negeri. Ada bentuk penerapan seperti KKN(Kuliah Kerja Nyata), berbagai bentuk acara community service hingga community developement, dan sebagainya. Bahkan di era sekarang sedang populer kegiatan atau gerakan pengabdian masyarakat berbasis pendidikan yang banyak terinspirasi oleh Gerakan Indonesia Mengajar baik di level jurusan, fakultas, maupun universitas.

Pasca kegiatan Ujian Akhir Semester Genap usai, saya mengikuti kegiatan FISIP Masuk Desa(FMD) 2016. FISIP Masuk Desa merupakan kegiatan pengabdian masyarakat berbentuk community service atau social project yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial Masyarakat BEM FISIP UI dan diikuti oleh anak FISIP sebagai peserta. Tahun Ini adalah tahun kedua saya mengikuti kegiatan tersebut setelah sebelumnya, pada tahun 2015 silam FMD berlangsung di daerah Karang Tengah, tak jauh dari perumahan Sentul City. Tahun ini, FMD dilaksanakan masih di dalam wilayah kabupaten Bogor namun di Desa yang berbeda, yaitu di Kampung Tegal Panjang, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur.

Sebagai sebuah kegiatan tahunan, tentunya pembelajaran dari setiap proses yang dilewati menjadi suatu batu loncatan untuk terus-menerus melakukan perbaikan. Saya kira FMD tahun ini banyak belajar dari FMD tahun kemarin dengan membuat perbaikan di berbagai sisi. Hal tersebut juga yang menjadi motivasi saya untuk terlibat kembali sebagai panitia dalam kegiatan ini. Saya menyadari di tahun sebelumnya saya tidak memberikan kontribusi yang maksimal atau setidaknya cukup. Pada tahun ini, saya terlibat dalam kepanitiaan FMD sebagai bagian dari divisi acara yang bertanggung jawab atas beberapa kegiatan pra acara yang dikenal dengan Baper Bareng FMD. Rangkaian kegiatan Baper Bareng FMD tersusun dari lima kegiatan, yaitu Sentra Imaji, Silang Gagasan, Susur Desa, Pralaksana Dharma, dan Gugus Sinergi. Rangkaian kegiatan pra acara(Baper Bareng FMD) bertujuan sebagai upaya persiapan peserta dan panitia sebelum kegiatan dilaksanakan pada hari-H.

Pelaksanaan FMD 2016 berlangsung pada tanggal 13-15 Juli 2016. Kebetulan waktu pelaksanaan FMD tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Tentunya hal ini menjadi sebuah tantangan bagi kami panitia dan peserta. Rancangan kegiatan harus dibuat sematang mungkin agar tidak menjadi beban yang terlalu berat baik bagi panitia dan peserta, maupun bagi warga desa Tegal Panjang. Pelaksanaan berbagai kegiatan harus dipersiapkan. Pada hari pertama(Senen Wawawuhan) kegiatan dimulai dengan acara pembukaan di kantor desa dan mobilisasi peserta ke rumah induk semang masing-masing. Di hari kedua(Selasa Ngariung) kegiatan yang dilakukan yaitu workshop usaha rakyat, kegiatan “Dari FISIP untuk Tegal Panjang”, dan buka puasa bersama. Pada hari ketiga(Rebo Babagi), kegiatan diisi dengan pengobatan gratis bersama ACT dan pamitan.

Karena tanggung jawab fungsional saya untuk mengurus kegiatan pra acara telah usai, maka selama berlangsungnya acara pada hari-H saya “beralih profesi” sebagai pekerja serabutan atau pembantu umum. Mulai dari menjadi tim advance yang tiba di lokasi lebih awal, mobilisator peserta, pembawa acara, pembaca doa, pengisi sesi refleksi, pasukan angkat-angkat, sampai tukang cuci piring. Kondisi seperti ini tentunya sangat menyenangkan bagi saya karena dengan tanggung jawab fungsional yang telah usai, saya bisa lebih banyak belajar selama kegiatan berlangsung di desa.

FISIP Masuk Desa 2016 mungkin bukan pertama kalinya saya turun ke desa. Sebelum FMD saya pernah beberapa kali turun ke desa baik yang berbentuk kegiatan resmi seperti Gerakan UI Mengajar maupun sekedar kegiatan pelesiran saya. Beberapa pola permasalahan umum yang dihadapi masih sama. Pada umumnya setiap desa punya masalah terkait dengan akses pendidikan yang sulit, pemenuhan hak-hak sipil, pengembangan ekonomi masyarakat, sarana dan prasarana, dan sebagainya. Saya mungkin sampai saat ini belum bisa berbuat apa-apa selain mempertanyakan bagaimana berlangsungnya otonomi daerah sampai saat ini.  

Pola permasalahan yang saya sadari tersebut juga menyentil nalar saya dan berpikir bahwasanya berbagai kegiatan pengabdian masyarakat tersebut memang tidak bisa begitu saja menyelesaikan permasalahan-permasalahan di desa tersebut. Permasalahan-permasalahan yang ada tentunya harus diselesaikan secara makro dan dalam jangka waktu yang sangat panjang serta melibatkan banyak pihak. Akan tetapi, meskipun demikian hal tersebut tidak bisa menjadi alasan untuk kita enggan turun ke desa dan melakukan berbagai kegiatan pengabdian masyarakat. Yakinlah, sekecil apapun dampaknya hal tersebut juga memiliki arti. Entah bagi siapa dan kapan dampaknya akan terasa. Setidaknya, orientasi paling mendasar yang bisa kita tanamkan adalah untuk memberikan apa yang bisa kita beri serta belajar untuk mengambil manfaat dari apa yang bisa kita pelajari. 

Dokumentasi :


Kegiatan Workshop Usaha Rakyat

Dari FISIP Untuk Tegal Panjang

Pengobatan Gratis bersama ACT

Acara Pembukaan

Sesi Diskusi dan Refleksi pasca kegiatan

Ngelamun

Jumat, 15 Juli 2016

DIALEKTIKA DALAM GERAKAN : ANCAMAN ATAU KEBUTUHAN ?




Saya sering menemui berbagai obrolan hebat di antara “anak gerakan” atau “orang pergerakan”. Saya menyebutnya hebat, karena seringkali yang mereka obrolkan membuat saya kebingungan. Ingin nimbrung tapi ngga ngerti bahasan. Seringkali berlarut-larut dalam obrolan, tak jarang menimbulkan perbedatan. Dan herannya, kok mereka tahan?

Ketika mereka berbicara tentang sesuatu untuk didiskusikan, saya mungkin cuman bisa gigit jari, decak kagum geleng-geleng, dan bertanya-tanya kepada diri sendiri “saya bisa bicara begini kapan?”. Saya pun penasaran mengapa mereka bisa begitu tahan dalam suatu perdebatan, menjabarkan berbagai teori dan pendekatan, saling kritik dan tarik-ulur logika untuk mengambil kesimpulan. Waw! Apa harus segitunya ya jadi “anak gerakan” atau “orang pergerakan” ? Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang kawan mengapa hal itu ia lakukan . Dia hanya menjawab “Dialektika itu penting dalam gerakan!”

Dengan semangat rasa penasaran seorang awam, saya berkutat untuk mendalami lebih jauh soal dialektika ini. Mungkin tidak dalam dan jauh, sebatas googling dengan sumber sesederhana mungkin untuk saya pahami. 

Dalam bahasan dialektika ini, saya mengenal seorang tokoh bernama Hegel. Ia membangun sistem filsafatnya terdiri dari “triade-triade” yang merupakan rangkaian proses dialektis tiga tahap : (1)tesis, (2)antitesis, dan (3)sintesis. Disini kita bisa mendefinisikan tesis sebagai suatu konsep universal yang abstrak sebagai titik tolak. Sedangkan antitesis merupakan kontradiksi atas tesis. Dan, kedua konsep yang bertentangan tersebut kemudian disatukan dalam sintesis. Ketiga konsep inilah yang menjadi landasan sistem filsafat hegel untuk mencari kebenaran. 

Dalam sebuah gerakan tentunya sangat lazim kita akan menemukan berbagai macam pandangan ideologis yang mungkin saja saling bertentangan. Perbedaan pandangan dan haluan ideologis tersebut biasanya memunculkan kritik dan dinamika dengan perdebatan. Ketika dikritik, banyak orang yang menganggap adanya kritik-mengkritik dan perdebatan akan menghambat sebuah gerakan. Kritik-mengkritik, perdebatan, dan pertempuran wacana kerapkali dianggap sebagai sesuatu yang merusak citra gerakan dan memperburuk keadaan. Saya kira banyak orang yang terjebak untuk fokus pada siapa yang mengkritiknya, sehingga banyak yang menganggap kritik itu sebagai sebuah serangan. Banyak orang lupa kalau dibalik tajamnya pisau kritik yang mencabik ada kata “apa” atau substansi kepedulian dan kesamaan tujuan, yakni pencarian kebenaran atas apa yang dilakukan dan diperjuangkan. 

Mencari Kebenaran. Rupanya ini yang menjadi motivasi dasar bagi kawan-kawan saya yang “anak gerakan” itu untuk larut dalam obrolan atau dalam suatu perdebatan. Jika memang ini menjadi sebuah dasar dan motivasinya, saya kira kritik-mengkritik menjadi sebuah kebutuhan. Dengan proses dialektis, sebuah wacana akan dikonstruksi, kemudian mengalami dekonstruksi, untuk kembali direkonstruksi. Adanya dialektika ini akan menjadi suatu kebutuhan untuk menentukan arah dan pendekatan yang paling tepat dalam sebuah gerakan. Sehingga, perlu dipertanyakan kembali apabila ada golongan yang menganggap kritik-mengkritik dan dialektika dalam gerakan sebagai sebuah ancaman. Dalam bahasa yang lebih simpel, kita bisa pertanyakan dalam sebuah kalimat “Kok anak gerakan segitunya gampang baperan?”

Bukankah dalam demokrasi ruang dialektika sangat relevan untuk disediakan? Saya kira alangkah lebih baik jika kita kembali berpikir sejenak dan merenungkan. Masihkah dialektika layak kita anggap sebagai sebuah ancaman ataukah justru dialektika menjadi suatu kebutuhan? Silahkan anda tentukan!

Sabtu, 02 Juli 2016

MEMBACA DAN MERANCANG PERJALANAN INTELEKTUAL


Akhir-akhir ini saya sedang keranjingan membaca. Entah tepatnya motivasi ini muncul dari mana, yang jelas sepertinya saya sedang menemukan fase baru dalam hidup saya. Berawal dari misi besar saya yang bertajuk “Upgrade Yourself” di tahun ini, saya mencoba untuk menemukan cara terbaik untuk meningkatkan kualitas diri saya pribadi. Saya mencoba merumuskan berbagai macam hal, dan tidak ketinggalan saya menempatkan peningkatan pengetahuan sebagai salah satu prioritas. Bagaimana tidak, penguasaan atas pengetahuan akan menjadi salah satu faktor penentu kualitas hidup kita ke depannya. Pengetahuan akan menjadi dasar kita bertindak dan berperan di masyarakat kelak.

Sejak dulu sebetulnya saya selalu menyempatkan diri untuk membaca buku. Sejak masa SMA, karena saya merupakan siswa IPS, saya memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan salah satu guru sejarah yang selalu menganjurkan dan mendorong siswa-siswinya untuk banyak membaca. Banyak buku yang beliau sarankan. Mulai dari buku bertema sosial-politik, sejarah, biografi, sastra, agama, bahkan filsafat. Pada waktu itu saya mendengarkan pesan beliau untuk membaca. Ya, setidaknya saya masih membaca beberapa buku selama setahun. Maklum, dulu saya cukup aktif di kegiatan keorganisasian di IC. Kelas satu kekuatan saya sangat terserap oleh beban akademik. Kelas dua, fokus mulai berubah ke arah organisasi karena saya menjadi ketua MPS yang turut juga turun dalam kepanitiaan-kepanitiaan baik yang bersifat supervisi maupun eksekusi. Kelas tiga, sudah tidak ada lagi waktu untuk macam-macam. Mungkin ini momentum “tebus dosa” karena sedari kelas satu dan dua saya tidak terlalu rajin belajar. Kondisi-kondisi inilah yang membuat saya abai terhadap keseriusan membaca. Saya hanya membaca kalau itu yang memang menarik dan sedang gandrung dibahas oleh kawan-kawan. Akan tetapi, di masa SMA ini juga saya mulai mengenal dunia pergerakan setelah membaca dan menonton film GIE.

Pada masa kuliah di tahun pertama ceritanya lain lagi. Maklum, yang namanya maba masih mencari identitas, saya berusaha untuk membaca dari permukaan terhadap segala macam yang saya temui. Saya melampaui bayangan saya menyoal kehidupan kuliah yang dalam perencanaan saya dulu hanya ingin kuliah dan naik gunung. Rupanya tuhan membawa saya kepada jalan yang berbeda. Saya terjun ke dunia yang orang sebut dengan “pergerakan” atau “aktivisme” atau apapun itu bahasanya. Pada titik ini, saya memasuki fase baru dan melampaui imajinasi sebelum-sebelumnya.

Saya sadar saya punya potensi kemauan belajar yang keras terhadap suatu bidang yang sangat saya minati. Sejak kecil saya memang lebih suka terhadap hal-hal berbau sosial dan sejarah. Potensi mendasar ini melecut saya untuk melangkah lebih jauh. Sewaktu saya terjun di dunia yang bernama pergerakan itu, saya berkenalan dengan orang-roang yang gemar membaca, menulis, dan diskusi. Dari sini saya mulai kembali menemukan motivasi untuk membaca lebih giat lagi. Saya iri sekaligus kagum terhadap kawan-kawan saya yang memiliki pengetahuan yang begitu luas tentang sosial-politik. Saya terpacu untuk belajar lebih. Berkenalan lebih jauh dengan ideologi, filsafat, dan sebagainya. Saya mulai mendalami pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh seperti Tan Malaka, Marx, Engels, dan sejumlah tokoh lainnya.

Sebagai seorang mahasiswa administrasi niaga, sepatutnya ilmu yang saya dalami adalah ilmu bisnis. Mungkin seharusnya jumlah bacaan saya terkait bisnis menjadi prioritas. Namun, saya perlu mendefiniskan kembali tujuan dan orientasi hidup saya tidak sebatas selesai sampai disitu. Saya masuk jurusan berbau bisnis bukan untuk menghambakan diri saya dalam dunia itu selamanya. Saya punya tujuan untuk berperan lebih di masyarakat. Bisnis hanyalah salah satu upaya menunjang hidup saya dan keluarga saya kelak. Sisanya mengabdikan diri bagi masyarakat dengan jalan apapun itu. Oleh karenanya, saya membuka lebar-lebar pintu penerimaan atas pengetahuan di luar bidang kuliah yang saya tekuni. Ketika tujuan hidup saya adalah mengabdikan diri di masyarakat, maka saya harus mengenal lebih jauh berbagai macam hal terkait dengan masyarakatnya. Bagaimana kondisi sosial, budaya, politik, ekonomi, keagamaan, filsafat, ideologi, dan sebagainya harus saya pelajari, minimal saya kenali.

Pada tahun kedua kuliah, saya kembali mengolah, memikirkan, dan merenungkan kembali arah dan jalan hidup saya. Setelah saya memutuskan untuk merancang sebuah gagasan “Upgrade Yourself!” saya mulai menemukan sebuah jalan yang bagi saya begitu penting, yaitu peningkatan pengetahuan. Saya mencoba untuk bertanya-tanya kepada kawan-kawan dan guru saya tentang buku-buku yang bisa disarankan bagi saya untuk memulai proses ini. Banyak buku yang ia sebutkan. Kemudian, diantara sekian banyak buku yang disebutkan, buku pertama yang saya pilih untuk memulai proses membaca ini adalah buku “Tugas Cendekiawan Muslim” karya Ali Syariati.

Melalui buku Ali Syariati tersebut, saya semakin termotivasi untuk lebih giat lagi belajar dan membaca. Saya menemukan sebuah konsep “Rhausan Fikr” yang kurang lebih bisa diartikan sebagai cendekiawan yang memiliki peran besar untuk menggerakan masyarakat menuju sebuah titik kemajuan secara progressif. Dari sini, saya berkesimpulan bahwa saya harus lebih serius lagi membaca dan mulai merancang perjalanan intelektual saya sendiri.

Perjalanan intelektual adalah sebuah proses yang akan berlangsung sepanjang hidup selama kita masih terus belajar. Di dalamnya, kita akan menemukan berbagai macam tantangan. Tentunya kita perlu melibatkan tenaga lebih dalam berdialektika. Menetapkan sebuah tesis, kemudian menghadirkan anti-tesis, dan menghasilkan sebuah sintesis. Konstruksi, rekonstruksi, dan dekonstruksi pasti terjadi. Proses ini akan berlangsung terus. Apalagi jika buku-buku yang kita baca merupakan buku-buku yang multiperspektif. Pasti akan sering terjadi pergumulan di dalam kepala. Dan ini yang justru akan mempertajam logika kita, menambah keketatan metode berpikir, membuka pandangan yang lebih luas melalui proses penalaran yang baik.

Akhirnya saya merancang perjalanan intelektual ini. Saya mulai membayangkan diri saya di masa depan akan menjadi seperti apa yang saya cita-citakan. Saya semakin gandrung untuk berkelana ke perpustakaan, toko-toko buku, dan mencari tahu buku-buku apa saja yang menarik. Buku-buku yang saya temukan kemudian saya catat untuk masuk waiting list bacaan yang akan saya tuntaskan. Dalam merancang perjalanan intelektual ini tentunya saya tidak mau menjadi orang yang miskin perspektif sehingga terkesan kurang hiburan. Meskipun saat ini saya cukup akrab dengan kehidupan akademik yang sekuler, biar bagaimanapun juga saya adalah seorang santri. Saya tidak akan melepaskan diri saya dari pembelajaran agama walaupun penyelaman atas dunia filsafat semakin sering saya lakukan. Saya sadar penggalian dan pergumulan pemikiran sangat riskan untuk menyentuh sekulerisme. Akan tetapi, saya yakin bekal 12 tahun di sekolah berbau agama akan menjaga saya untuk tetap “on the track”. Oleh karena itu, dalam rancangan perjalanan intelektual ini saya selalu berusaha untuk menyeimbangkan segalanya. Kalau saya menyentuh perspektif kiri, saya tidak lupa menyentuh perspektif kanan. Kalau menyentuh hal-hal berbau sekulerisme, saya juga harus menyentuh hal-hal berbau agama dan spiritualitas(re:tasawuf).


Saya kira dengan rancangan perjalanan intelektual yang multiperspektif output yang dihasilkan adalah sikap yang didasari oleh metode berpikir “manhajul fikri at tawassuthy” atau disebut juga metode berpikir moderat. Dengan metode berpikir moderat, pemahaman atas berbagai macam realitas akan akan menjadi lebih komprehensif. Kita akan selalu berusaha mencari titik harmoni dari suatu permasalahan dan menyelesaikannya secara bijak. Apa yang akan kita ungkapkan baik secara lisan maupun tulisan akan sangat tercermin dari apa yang kita baca. Bagi saya, disitulah pentingnya mambaca dan merancang perjalanan intelektual.  


Senin, 27 Juni 2016

Ketika Malam Dua Tiga

Kamu mengajarkan saya untuk jatuh cinta lebih romantis
Tanpa banyak kata dan bicara
Hanya perkara rasa yang tak kita saling tahu sejauh apa
Kamu mengajarkan saya untuk menjadi lebih cerdas
Menghujani saya dengan berjuta tanya yang harus saya cari sendiri jawabnya
Belajar menafsirkan setiap kata dari mulutmu
Dan mengartikan ekspresi yang kau tampakkan dalam tindakmu
Kamu mengajarkan saya tentang menjadi laki-laki yang sesungguhnya
Bukan menjadi pengecut di balik selimut rasa takut
Namun ksatria yang siap kehilangan segalanya
Kamu pernah bertanya “Untuk apa kita bertemu?”
Lalu kujawab “rindu”
Kemudian kau berkata “Simpan saja, temui aku dalam doa, ajak tuhan menjadi saksinya”
Aku hanya berharap, suatu saat nanti aku bisa mencintaimu seperti aku mencintai tuhanku
Tak perlu melihat wujud, namun tetap percaya dan mencinta setulusnya

-Lakon Hidup

Selasa, 21 Juni 2016

DAKWAH : TUGAS SIAPA ?



Beberapa hari yang lalu saya melaksanakan solat jumat di salah satu tempat di sudut kampus. Seperti biasanya solat jumat dilaksanakan dengan didahului khutbah yang disampaikan oleh khotib.

Saya tiba di lokasi tidak benar-benar tepat pada waktunya sehingga kurang terlalu mengerti tema besar dari khutbah yang disampaikan. Akan tetapi, saya mulai merasa tersentil ketika sang khotib membacakan sebuah ayat yang rasanya tak asing di telinga saya, yaitu surat An Nahl ayat 125.

Kurang lebih bunyinya demikian :

“Ud’u Ilaa sabiili robbika bil hikmati wal mau’izhotil hasanati wa jaadilhum billatii hiya ahsan, inna robbaka ya’lamu man dholla an sabiilihi wa huwa a’lamu bil muhtadiin”

Setelah saya mendengar sang khotib membacakan ayat tersebut, roda imajinasi saya bergerak dan sedikit merenungi tentang perintah dakwah ini. Selain memahami ayat ini sebagai sebuah ayat yang menjelaskan tentang metode dakwah yang tepat, ayat ini jelas mengandung perintah atau anjuran untuk melakukan dakwah.

Berkaitan dengan hal ini, imajinasi saya beranjak menuju ayat lain yang relevan. Ayat tersebut terkandung dalam surat Ali Imran ayat 104 yang bunyinya demikian :
“Wal takun minkum ummatun yad’uuna ilal khoiri wa ya’muruuna bil ma’ruufi wa yanhauna anil munkar wa ulaa’ika humul muflihuun.”

Kurang lebih artinya demikian :

 "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung".

Dalam kapasitas saya sebagai seorang muta’allim(pembelajar) dan mutadabbir(pentadabbur), bukan sebagai seorang mufassir(penafsir), saya mencoba berpikir lebih jauh. Ayat ini sesunggguhnya merupakan sebuah bentuk perintah atau anjuran yang Allah berikan kepada manusia untuk melaksanakan tugasnya di muka bumi ini. Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dengan kata lain kedua hal tersebut bisa kita simpulkan menjadi satu kata “dakwah”.

Saya mencoba menerka-nerka maksud ayat ini meskipun sedikit takut karena kapasitas saya bukan sebagai seorang mufassir. Namun, saya teringat satu pelajaran penting yang saya dapat dari maiyahan kenduri cinta yang dikatakan oleh Cak Nun bahwasanya siapapun punya hak untuk mentadabburi ayat Allah selama proses ta’allum, dalam proses pencarian kebenaran.

Masing-masing kita perlu saling rendah hati untuk tidak merasa paling benar dalam memahami alquran. Toh, masing-masing kita punya jarak terhadap alquran itu. Sehingga tidak ada satupun tafsir mutlak atas alquran dari ulama se-arif apapun, karena kebenaran hanya secara mutlak dimiliki oleh Allah dan rasulnya.

Kembali kepada bahasan dakwah. Kesoktahuan saya mungkin diawali dari sedikit otak-atik pemahaman dasar saya tentang ilmu nahwu dan shorof. Perintah “waltakun minkum ummatun”  pada ayat 104 surat ali imran mengandung  makna yang secara general membuka peluang bagi siapapun yang dimaksud dan menjadi bagian dari “Ummatun” tersebut.

Meskipun ada pendapat yang menyatakan adanya reduksi makna “ummatun” melalui kata “minkum” seperti pendapat Al Qurthubi dalam kitab tafsirnya sehingga menimbulkan dikotomi hukum wajib dan fardhu kifayah, namun di sisi lain argumen saya tentang perintah dakwah yang berlaku bagi seluruh ummat juga didukung oleh Imam Fakhruddin Ar Razi dalam kitabnya Tafsir Al Kabir atau yang biasa dikenal dengan Mafatihul ghaib.

Ar Razi menyatakan bahwa memang ada dua dikotomi pendapat. Namun kata “minkum” di sini bukan untuk mereduksi generalitas makna kata “ummatun” melainkan sebagai penjelasan. Sehingga keumuman perintah dakwah dalam ayat ini lebih bertumpu pada kalimat setelahnya yaitu “ya’muruuna bil ma’ruufi wa yanhauna a’nil munkar”.

Setelah berpikir-pikir dan sedikit kembali cari-cari bahan bacaan, saya mulai berpikir tentang perintah dan praktek dakwah dalam konteks hari ini. Mungkin, ini seakan-akan seperti sebuah kritik atau dumelan-dumelan saya yang sebetulnya masih “qolilun ilmuhu” tapi “katsirun kalamuhu”. Tapi ya semoga bisa jadi bahan renungan. Barangkali ada manfaat dan kebenaran dan menjadi ilmu yang bisa dijariyahkan.

Dalam konteks hari ini entah mengapa saya melihat adanya sebuah bentuk ekslusifitas dakwah yang mengacu pada suatu golongan tertentu maupun tokoh-tokoh tertentu. Dakwah seakan-akan hanya boleh dan dapat dibicarakan oleh segolongan tertentu yang tampilannya memang orang pantas berdakwah.

Ya, simpelnya pake kata “monopoli dakwah” deh.
Bagi para ulama memang sudah tugasnya berdakwah. Apalagi semakin tinggi ilmunya, semakin besar tanggung jawabnya kepada ummat, karena mereka bisa terkategorikan sebagai ulil amri. Akan tetapi, jangan sampai seakan-akan dakwah itu sendiri hanya boleh disampaikan oleh mereka. Siapapun kita berhak bahkan ada yang berpendapat berkewajiban untuk berdakwah dalam bentuk apapun, sekecil apapun. Di sini, para ulama sebetulnya punya tugas lebih untuk mengajarkan ummat ilmu yang bermanfaat dan mendakwahkannya.

Dalam konteks yang lebih dekat dengan kehidupan saya, yaitu konteks kehidupan kampus, dakwah punya cerita yang berbeda. Dalam konteks kampus, tidak semuanya sih, tapi entah mengapa saya merasa wacana dakwah seakan-akan terkungkung dan tidak dapat menembus tembok-tembok musolah atau masjid.

Ya mungkin kadang tembus sih, tapi bisa ditembusnya ke aula-aula yang sudah diisi oleh segolongan orang-orang yang pantas berdakwah tersebut sahaja. Seakan-akan dakwah itu tidak main di kantin yang banyak perokoknya, yang banyak botol miras dan kartu-kartu berserakan di atas mejanya, dan rupa-rupa orang yang secara tampilan berbeda dengan golongan di atas.

Loh kok gitu ya? Saya cuman kepikiran aja kapan wacana dakwah ini mau berkembang kalau seandainya bahasan-bahasan menyoal agama tak dapat menembus tembok-tembok musolah dan aula-aula formal acara dan diskusi atau seminar dakwah.

Ah kurang asik sih jadinya. Padahal, dulu walisongo dan para ulama lainnya bisa dakwah dengan asik . Bisa dakwah sambil main wayang, bisa dakwah sambil main gamelan, bisa dakwah sambil ngobrol ngalor-ngidul sama penenggak arak yang masih nyembah kendi, pokoknya asik lah dakwahnya.

Di situ saya temukan adanya kecerdasan sosial para ulama saat itu yang sangat tinggi. Mereka bisa membaca dan memahami kondisi sosio-kultural masyarakatnya sehingga mencari pendekatan yang pas dalam berdakwah. Di situ juga terlihat letak ketawadhuan (rendah hati) para ulama saat itu yang mau blusukan(minjem bahasanya media) atau bahasa orang kirinya grassroot lah dakwahnya.

Ya mungkin kondisi ummat hari udah berbeda sih ya. Dulu kan belum ada organisasi formal atau lembaga-lembaga formal berbentuk ormas, partai, atau institusi apapun. Dulu juga belum ada model pendidikan yang memberikan gelar khusus kepada para muta’allim ilmu agama yang telah “najah” dalam studinya seperti sekarang sehingga punya gelar S.Ag atau M. Ag dan sebagainya.

Mungkin saja ulama-ulama dulu peluang orientasi belajarnya lebih sedikit, paling ya “nawaitut ta’allum”-nya (niat belajar) bener-bener untuk “i’laa’i kalimatillah”(menegakkan kalimat Allah) dan tidak seperti saat ini yang peluang orientasinya lebih banyak seperti “li tolabil fulusi” (cari duit) atau “li assasil hizbi”(bikin partai).Yang terakhir ini su’udzon aja loh ya, dan bentuknya kan masih “mungkin” jadi cuman mau buka kemungkinan dan bukan bentuk justifikasi.

Pada initinya dari tulisan saya ini, saya cuman pengen sampaikan dumelan saya kalau dakwah itu milik semua, tugas semua. Dakwah menjadi tugas semua meskipun dalam kapasitas yang berbeda-beda. Bentuknya juga bisa berbeda-beda, bisa dalam bentuk nasihat maupun tindakan atau bentuk-bentuk lainnya.

Selayaknya dan sepatutnya kita sadar akan hal itu. Baik yang sudah merasa sebagai “pendakwah” maupun yang belum. Bagi yang sudah merasa “pendakwah” ya jangan ngerasa segan lah buat main-main di luar musolah/masjid bersama golongan dan jamaahnya.

Barangkali ada hikmah dan ibroh yang bisa diambil toh siapa yang tau. Bahkan nasihat dari seekor binatang pun apabila itu baik maka harus kita ambil, apalagi yang datangnya dari manusia.
Mungkin sekian curhatan dan dumelan saya. Berawal dari pertanyaan, “dakwah itu tugas siapa?” jadinya saya melipir kemana-mana juga jadinya kan nggak enak.

Saya tutup tulisan ini dengan kalimat “wallahu a’lam bis showab” yang artinya Allah yang Maha tahu atas kebenaran yang sebenar-benarnya, sehaki-hakikinya.

Rabu, 01 Juni 2016

Catatan 1/6/16

Malam ini seperti malam-malam biasanya, mampir ke salah satu tempat makan yang tak sepi dari pelanggan. Janjian dengan seorang kawan yang katanya esok hari mau ujian. Entah siapa yang membuka obrolan, tetiba saya dan kawan saya ini sampai pada satu obrolan yang berkesan. Ya, soal asmara, tentang perasaan.

Kami saling bertukar pandangan. Saling bercerita dan saling mendengarkan. Menarik memang, ada gejala-gejala, pola-pola, dan kecenderungan yang sama yang kami lakukan. Dari obrolan berkesan ini saya cukup banyak mengambil pelajaran.

Pertama, berkaitan dengan posesifitas. Kita sering melihat betapa posesifnya orang-orang dalam berhubungan. Secara resmi mungkin belum ada ikatan, namun tindak dan perilakunya kerapkali berlebihan. Sehingga, tatkala salah satunya meninggalkan, yang satunya hancur lebur berantakan. Memang sampai pada kadar tertentu, dalam suatu hubungan posesifitas memang dibutuhkan. Namun, akan sangat bahaya jika berlebihan.

Berkaitan dengan ini, dari hasil obrolan kami, dalam suatu hubungan baiknya tertanam di dalam akal sehat kita sebuah kesiapan. Ya, siap untuk memiliki dan siap untuk kehilangan. Siap untuk berkorban atau siap untuk mengorbankan. Siap untuk meninggalkan atau siap untuk ditinggalkan. Dan di antara dua hal yang kerapkali berlawanan, butuh pula adanya keseimbangan. Sebab hati manusia itu begitu cepat berubah. Hari ini bisa saja kita menjadi menjadi raja, menjadi orang yang berkesan, dan dirindukan oleh seseorang. Namun hari esok, bisa saja kita tidak menjadi apa-apa.

Kedua, masih berkaitan dengan posesifitas, kita dihadapkan pada dominasi dan pengaturan. Wajar saja dalam suatu hubungan muncul dominasi dan aturan(baik dengan maupun tanpa kesepakatan). Namun, kembali lagi, sampai kadar dan batas kewajaran. Banyak orang ketika menjalani hubungan, terlalu berlebihan dalam mendominasi dan membuat aturan. Disini, kita perlu menyadari dan mempertanyakan kembali: Memangnya kita ini siapa? Meminjam ungkapan seorang teman, ia pernah berujar " tidak pernah ada BIG DEAL dalam suatu hubungan kecuali benar-benar ada dalam suatu ikatan pernikahan."

Saya mencoba memikirkan perkataan tersebut lebih jauh. Ada benarnya juga, ketika kita dihadapkan pada status hubungan pacaran, bukankah itu hanya status bohong-bohongan? Ya, seseorang bisa saja bilang pacar hari ini, tapi esok hari bisa saja lain cerita. Berbeda dengan pernikahan yang tidak bisa sembarangan. Ada aturan, ada legalitas, pembagian yang jelas antara hak dan kewajiban.

Ketiga, dalam suatu hubungan, ibarat dalam sebuah bisnis, kita turut menginvestasikan apa yang kita miliki. Setidaknya 3 hal paling mendasar, yaitu perasaan, waktu, dan materi.  Investasi itu jelas ada dan perlu dilakukan. Akan tetapi kembali lagi, pada suatu kadar dan batas kewajaran. Berikan yang bisa kita berikan, lalu biarkan orang yang kita sayangi itu mengelolanya sendiri. Sebab, dari situ ia akan banyak mengambil pelajaran.

Keempat, mungkin ini harus menjadi dasar bagi ketiga hal di atas dan fondasi yang jelas dalam suatu hubungan, yaitu pelibatan tuhan. Terlepas dari kontradiksi pandangan pro-pacaran maupun kontra-pacaran, yang jelas gagasan pelibatan tuhan tetap diperlukan. Mengapa demikian? Kerapkali kita lupa melibatkan tuhan yang padahal masih bisa kita jangkau sesederhana lewat doa dalam sujud-sujud yang kita lakukan.Padahal ketika kita melibatkan tuhan dalam suatu hubungan, kita tidak perlu lagi memperketat posesifitas, dominasi dan peraturan, serta investasi berlebihan. Sebab, kita percaya bahwasanya semua itu adalah titipan. Mereka yang datang sebagai titipan bisa saja suatu saat akan diambil kembali. Mereka yang hadir saat ini suatu saat bisa saja pergi.  Dan di balik semua itu, terletak hikmah dan pelajaran. Jelas sekali, Allah ingin mengajarkan kita soal keikhlasan. Ikhlas untuk memiliki, ikhlas pula untuk kehilangan.

Ya, keempat hal tadi yang setidaknya mewarnai obrolan saya dengan seorang kawan. Memulai dari hal yang sederhana, namun ternyata menarik juga untuk dijadikan sebuah bahasan. Semoga, dengan bahasan ini kita tidak perlu ketakutan berlebihan untuk kehilangan dan ditinggalkan.

Terakhir, sebuah pepatah Arab yang terkenal mungkin juga bisa jadi bahan perenungan:

"Ahbib habiibaka haunan maa, asaa an yakuuna baghidoka yauman maa. Wa abghid bagiidhoka haunan maa, asaa an yakuuna habiibaka yauman maa."

Cintailah seseorang yang kamu cintai itu sekedarnya saja, karena bisa jadi pada suatu saat kelak ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah orang yang kamu benci itu sekedarnya saja, karena bisa jadi pada suatu saat kelak ia akan menjadi orang yang kamu cintai.

Wallahu A'lam Bis Showab

Beji, 2/6 sepertiga malam
-Lakon Hidup


Kamis, 26 Mei 2016

Telaah dan Refleksi Puisi “Kau Sangka Aku Muslim”




Kau sangka aku seorang muslim
Sebab kau temukan aku bersembahyang
Padahal kau tidak bisa membaca hatiku
Kau tak tau niatku dibalik sembahyang itu
Kau pikir aku seorang yang sholeh
Karna aku tampak khusyu berpuasa
Sedangkan kau tak mengerti pikiran juga strategi dibalik ibadahku
Bahkan kau tuduh aku kiai atau ustadz
Berdasar peci ,pakaian dan penampilanku
Telitilah manfaat mudarat hidupku
Sebab islam itu kata kerja ,
bukan kata benda yang kaku

(Emha Ainun Najib)

Pertama kali saya menemukan dan membaca puisi ini saya begitu tertegun. Sungguh, puisi karya Cak Nun ini adalah sebuah puisi yang memiliki nilai religiusitas yang begitu tinggi. Tidak begitu panjang, dengan kata-kata yang sederhana dan tidak terlalu berat diksinya namun sarat akan tingginya makna. Saat pertama kali saya membacanya, yang muncul pertama kali adalah rasa malu. Ya, rasa malu ketika saya mempertanyakan keislaman di dalam diri saya. Saya pun yakin, siapapun yang membacanya pasti juga akan memiliki kesan serupa dengan yang saya rasakan.

Dalam puisi ini, Cak Nun mencoba untuk menggambarkan bagaimana sangkaan-sangkaan dan penilaian-penilaian orang terhadap seseorang yang dianggap muslim itu terlalu cepat, terlalu mudah, dan hanya melihat hal-hal yang tampak, terlihat secara kasat mata. Padahal di dalamnya, jauh lebih penting daripada itu ialah bagaimana isi hati dari manusia itu sendiri. Apakah yang sesungguhnya tampak itu merupakan sebuah citraan realitas yang benar-benar sesuai dengan apa yang tersimpan di dalam hati, ataukah hanya citraan hasil rekayasa dari realitas yang tak tampak secara kasat mata. Pesan yang hendak disampaikan di sini adalah urusan ibadah, hanyalah Allah yang berhak menilai. Manusia tidak pernah mendapatkan jaminan pengetahuan mutlak atas isi hati orang lain yang dicitrakan melalui perbuatannya, atau dalam konteks ini ibadah.

Masih dalam konteks yang relevan, selain kritik atas kenampakan perbuatan dan ibadah seseorang, yang lebih terlihat dan kasat lagi adalah berkaitan dengan penampilan. Seseorang bisa lebih mudah dan terlalu cepat menilai orang lain hanya dari penampilannya saja. Seseorang yang berpakaian ala muslim, dinilai sebagai seseorang yang benar-benar muslim, memiliki tingkat religiusitas yang lebih tinggi, lebih alim, dan sebagainya. Padahal di dalamnya, hati dan penghambaan seseorang jauh lebih penting daripada itu semua sebagai sebuah bentuk dan realitas yang kasat mata.  Manusia tidak pernah mendapatkan jaminan pengetahuan mutlak atas isi hati orang lain yang dicitrakan melalui penampilannya atau dalam konteks ini pakaian. Lebih dalam lagi, penilaian atas orang lain yang lebih valid adalah melalui kenampakan mudarat dan manfaat seseorang. Karena itulah kalimat Telitilah manfaat mudarat hidupku menegaskan bahwa realitas yang lebih nyata di balik yang tampak. Dalam bahasa lain, meruhanikan yang materi.

Dua baris terakhir menggambarkan sebuah penegasan dan kesimpulan dari puisi ini. Kalimat  Sebab islam itu kata kerja , bukan kata benda yang kaku  menggambarkan bagaimana sesungguhnya islam sebagai sebuah agama tidak bisa dinilai secara kaku, dipandang secara rigid, dan hanya dinilai berdasarkan pemahaman ilmu dan logika manusia. Islam,  sebagai sebuah kata kerja yang dimaksudkan disini adalah sebagai agama yang tidak bisa dinilai secara sistematis, terstruktur, dan memiliki standar baku. Sebab, logika manusia belum bisa mencapai itu, dan hanya Allah yang memiliki hak preogratif menilai seseorang itu muslim atau bukan, serta iman atau tidak.

Saya kira puisi ini mengandung nilai-nilai dan ajaran tasawuf yang begitu tinggi. Sangat relevan untuk direngungkan dalam suasana yang kontemplatif. Perlu bagi kita untuk mempertanyakan kembali seberapa jauh penghayatan kita atas penghambaan kita kepada Allah. Sudah pantaskah kita disebut sebagai seorang muslim?

Wallahu A’lam Bisshowab

Ditulis dalam rangka memperingati Hari lahir Cak Nun
Beji, 27 Mei 2016
Lakon Hidup







Senin, 23 Mei 2016

Tugas Cendekiawan Muslim(Ali Syariati) : Sebuah Ulasan




Sebuah buku yang sangat luar biasa dan menunjukkan bagaimana islam pernah memiliki salah seorang tokoh intelektual zaman modern yang begitu hebat melalui gagasan-gagasan yang dituangkannya. Ali Syariati, seorang intelektual muslim kenamaan asal Iran yang telah melahirkan pemikiran-pemikiran islam progressif. Progressif dalam konteks ini meskipun sama-sama memunculkan gagasan anti kemapanan untuk selalu menuju tatanan masyarakat ideal dengan Marxisme, namun bukan berarti pemikiran-pemikiran Ali Syariati berintikan nafas marxisme. Sebaliknya, Ali Syariati justru mengkritisi banyak gagasan-gagasan marx tentang merubah tatanan masyarakat. Salah satu bukunya yang paling fenomenal ialah Tugas Cendekiawan Muslim yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr. Amien Rais.

Buku Tugas Cendekiawan Muslim ini tersusun dari 7 bab : Manusia dan Islam, Pandangan Dunia, Empat Penjara Manusia, Piramid Sosiologi Kebudayaan, Penggalian dan Penyaringan Sumber-sumber Kebudayaan, Ideologi, dan Peranan Kaum Intelektual dalam Islam. Buku ini disusun secara cukup tertata dengan menempatkan sebuah alur pemahaman yang terstruktur dengan berawal dari pemahaman mendasar hakikat manusia dalam islam sampai pada tahap akhirnya menjelaskan bagaimana peranan seharusnya seorang cendekiawan muslim.

Pada bab pertama, dalam bahasan Manusia dan Islam, Ali Syariati mencoba untuk menggambarkan bagaimana permasalahan manusia merupakan masalah yang paling penting pada peradaban dewasa ini. Ali Syariati sedikit menyinggung gagasan humanisme yang menjadi sebuah paham besar dewasa ini. Secara universal humanisme masuk dan tersebar di berbagai belahan dunia dan mempengaruhi banyak unsur kebudayaan termasuk agama. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu agama-agama banyak menyingkirkan humanisme sehingga muncul berbagai macam kritik atasnya.

Bahasan yang terdapat dalam bab pertama ini tentunya mencoba untuk memberikan penggambaran terhadap manusia berdasarkan kacamata islam yang dibedah berdasarkan ayat-ayat suci alquran dan penalaran atasnya. Dalam pandangan islam, manusia sesungguhnya berada memiliki identitas ganda yang memiliki kutub ekstrim menjadi yang mulia atau yang hina. Dalam berbagai macam ayat Allah menyebutkan manusia sebagai makhluk yang mulia dan dimuliakan. Akan tetapi dalam ayat-ayat lain manusia juga disebutkan dengan konsep yang berlawanan, yakni makhluk yang hina. Kesimpulan yang bisa diambil dari munculnya kontradiksi ini adalah bahwasanya Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk menjadi mulia apabila ia menjalankan tugas-tugasnya dan menjadi makhluk yang hina apabila meninggalkan dan mengingkarinya.

Pada bab kedua, Ali Syariati mencoba untuk menggambarkan pandangan dunia(vision de monde) yang dibahas secara filosofis, sosiologis, dan antropologis. Pada bab ini dibahas bagaimana pandangan-pandangan tentang dunia hasil olah pikir filsuf-filsuf maupun ilmuan kenamaan semacam Henry Bergson, Jalaludin Rumi, Sartre, dan sebagainya. Pada bab ini, terdapat banyak kritik terhadap pemikiran-pemikiran dan arah pandangan dunia barat yang dianggap absurd. Akan tetapi disini Ali Syariati juga mengkritisi pengkultusan-pengkultusan Syiah terhadap Ali bin Abi Thalib beserta keluarganya yang prakteknya marak berkembang di negeri asalnya sendiri, Iran.

Dalam bab ketiga, Ali Syariati membahas hal-hal apa saja yang menghalangi manusia bergerak dinamis menuju arah kesempurnaan. Menurut Ali Syari’ati ada empat penjara yang menghalangi manusia ke arah gerak dinamis menuju tahap kesempurnaan. Keempat penjara tersebut, adalah ; alam, sejarah, masyarakat, dan ego. Hukum alam yang dipahami secara determinisme-mekanistik dapat menjadi penghambat bagi manusia dalam tahapan evolusinya. Karena ketidakmampuan manusia “menundukkan” alam mengakibatkan kehidupan manusia menjadi tidak efektif dan efisien. Sejarah yang merupakan peristiwa masa lalu dapat menjebak manusia pada hukum-hukum determinisnya. Hasil-hasil dari peristiwa sejarah masa lampau yang dirasakan oleh manusia hari ini bisa membuat manusia dapat terjebak pada determinisme historis yang mengakibatkan manusia bersikap pasif dan kehilangan misi futuristiknya. Hukum dan kultur yang ada dalam lingkungan masyarakat pun bisa menghambat kreasi dan inovasi manusia dalam beraktualisasi diri untuk “menemukan” kesejatian dirinya. Sedangkan ego, sebagaimana dalam tinjaun kaum psikoanalisis atau kaum hedonis akan membuat manusia senantias memperturutkan hasrat instingtifnya dan melupakan realitas ruhani yang merupakan realitas sublim bagi manusia. Padahal, Manusia dibekali oleh Tuhan dengan tiga potensi dasar, yaitu ; kesadaran diri, kehendak bebas, dan kreatifitas yang sesungguhnya merupakan potensi yang memastikan manusia terus berada dalam proses becoming dan tidak pasrah atas determinisme alam.

Dalam bab ke-4, Ali Syariati mencoba untuk menyampaikan pandangannya sebagai seorang sosiolog sekaligus sejarawan yang secara spesifik mendalami sejarah peradaban dan agama-agama. Dalam bab ini beliau mencoba untuk menggambarkan bagaimana terjadinya perubahan-perubahan intelektual dan historis dalam berbagai tahap sejarah. Berkaitan dengan hal tersebut Ali Syariati mencoba untuk menggambarkan bagaimana terjadi perubahan karakteristik kaum intelektual atau cendekiawan yang disebabkan oleh perubahan kultur, kondisi sosial, religi, dan sebagainya. Pada bagian ini beliau juga mencoba untuk menggambarkan adanya kondisi yang berbeda dan memunculkan konflik yang membentuk kutub divergen antara barat dan timur. Pada bagian ini banyak kritik-kritik yang muncul atas budaya barat secara substansial dan munculnya fenomena dominasi budaya barat atas budaya timur yang menimbulkan dampak negatif bagi kaum intelektual timur yang kehilangan jatidiri ketimurannya karena terlalu berkiblat kepada barat. Gagasan yang dianjurkan oleh Syariati untuk para cendekiawan muslim yang pada umumnya berasal dari belahan dunia timur adalah “Belajar dari barat, namun jangan jadi peniru barat!”. Artinya para cendekiawan timur hendaknya tidak melepaskan nilai-nilai ketimurannya dalam menganalisis dan upaya mengubah masyarakatnya.

Setelah pembahasan mengenai konflik budaya barat-dan timur dalam bab-4, bahasan mengenai penggalian dan penyaringan sumber-sumber kebudayaan dalam bab-5  menjadi langkah tindak lanjut bagi para cendekiawan timur. Pada bab ini dibahas bagaimana para cendekiawan timur seharusnya tidak hanya mengguru kepada barat dan hanya menerjemahkan gagasan-gagasan hasil olahan para pemikir-pemikir barat. Akan tetapi lebih jauh dari itu para pemikir-pemikir dan para cendekiawan timur seharusnya menggali sendiri kekayaan budaya serta khazanah intelektual khas timur yang sesungguhnya lebih relevan dalam membedah dan menganalisis masyarakat timur itu sendiri. Apabila memang mengguru kepada barat, selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana budaya, pemahaman, dan pemikiran-pemikiran barat tersebut dapat dikritisi kembali untuk kemudian disaring sehingga tidak terjadi kerusakan budaya timur karena penjajahan budaya barat atas kehidupan bangsa timur, khususnya dalam dunia intelektual.

Selanjutnya, pembahasan beranjak ke bab-5 yang berkaitan dengan ideologi. Pada bab ini Ali Syariati di awal pembahasan mencoba untuk menggambarkan perbedaan antara ideologi, ilmu, dan filsafat. Ideologi didefinisikan sebagai pemikiran, gagasan, konsep, atau ilmu tentang keyakinan dan cita-cita. Secara sederhana pada konteks ini, seorang ideolog digambarkan sebagai seorang yang membela atau meyakini suatu keyakinan tertentu. Ilmu dalam konteks ini didefinisikan sebagai citra pemikiran manusia tentang alam yang kongkret dan merupakan penemuan manusia tentang beberapa hubungan, suatu prinsip, karakteristik kehidupan manusia, dan sebagainya. Sementara filsafat dalam konteks ini didefinisikan sebagai suatu upaya pencarian ke arah pemahaman sesuatu yang bersifat umum dan belum diketahui serta dijangkau oleh ilmu. Perbedaan mendasar antara ideologi dengan ilmu dan filsafat adalah terletak pada keberpihakan. Biar bagaimanapun ideologi tidak akan bebas nilai. Pada poin inilah yang menyebabkan munculnya keberpihakan dalam ideologi sehingga seseorang yang berideologi dapat dikatakan memiliki keyakinan, tujuan atau kepentingan tertentu. Setelah membahas  masalah perbedaan-perbedaan tersebut, bahasan selanjutnya terkait dengan kritik-kritik terhadap kondisi ideologi masyarakat Iran dan terhadap ideologi-ideologi barat. Dalam bahasan ini dijelaskan juga bahwasanya ilmuan dan filsuf bukanlah ideolog. Seorang ideolog haruslah memiliki tujuan dan kepentingan tertentu yang didasarkan atas kesadaran-kesadaran khsusus seperti kesedaran kelas, kesadaran intelektual, dan sebagainya yang terus berproses menuju kesadaran ideologis. Dalam bagian ini juga diperkenalkan adanya konsep rhousan fikr yang menjadi cendekiawan/intelektual yang menggerakkan masyarakat.

Pada bagian terakhir dari buku ini, Ali Syariati mencoba menjelaskan lebih spesifik sekaligus praktikal tentang bagaimana seharusnya seorang intelektual muslim berperan di masyarakat. Pada intinya, seorang cendekiawan muslim seharusnya menjadi penggali identitas dan kebudayaan dan merasakan benar-benar apa yang menjadi permasalahan bagi masyarakat sehingga dapat menggerakkan dan mendorong masyarakat secara progressif menuju kemajuan peradaban. Akan tetapi dalam konteks ini perlu juga diketahui bahwasanya gagasan progressif dan mendorong alur gerak sejarah peradaban yang digagas oleh Ali Syariati tidak sama dengan gagasan marxisme. Justru pada bab ini juga banyak kritik-kritik yang disampaikan oleh Ali Syariati kepada para Marxist muda dari timur yang menghilangkan konteks ketimurannya dan hanya membeo perkataan-perkataan Marx yang dijadikan postulat sehingga banyak menimbulkan sesat pikir.

Wallahu A’lam Bis Showab
Lakon Hidup




Sabtu, 21 Mei 2016

Telaah dan Refleksi Puisi “Aku Ingin”



Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan 
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
 awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono yang sangat sederhana tetapi sarat akan makna. Hanya dengan 34 kata, Sapardi berhasil menggugah banyak orang dengan puisinya yang berjudul “Aku Ingin” ini. Membaca puisi ini membuat saya turut melibatkan perasaan. Seakan-akan saya merasa menjadi tokoh dalam puisi tersebut. Ya, keseakan-akanan yang lumrah terjadi di berbagai macam penokohan yang terdapat di berbagai cerita dalam berbagai bentuk.

Saya membuat tulisan ini sebagai sebuah telaah sekaligus refleksi personal saya atas puisi “Aku Ingin”.  Entah mengapa rasanya puisi ini cuckup relevan dengan kehidupan saya sehari-hari. Ya, atau alasan lainnya mungkin hanya saya terlalu melibatkan perasaan sehingga mencoba mencocok-cocokkan. Apapun alasannya, yang jelas saya mencoba untuk menelaah dan merefleksikannya.

Pada bait pertama, Sapardi membuka puisinya dengan kalimat “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”. Di sini, saya memaknai tokoh dalam puisi ini digambarkan sebagai seseorang yang mencintai dengan penuh keapaadanyaan, mencintai dengan bersahaja, dan tidak berlebihan. Pemaknaan lainnya yang saya rasa masih cukup relevan dengan ini adalah bahwasanya si tokoh mencintai seseorang itu tanpa pamrih, benar-benar mencintai dengan tulus, apa adanya, sederhana.

Kemudian, masih di bait yang sama kalimat berikutnya “Dengan kata yang tak sempat diucapkan” dapat kita maknai dengan perasaan yang tak terungkapkan, terlambat disampaikan, dan masih mengganjal. Kemudian potongan kalimat “kayu kepada api yang menjadikannya abu” merupakan gambaran adanya pengorbanan. Melalui potongan kalimat ini, si tokoh yang diibaratkan sebagai kayu yang mencintai api digambarkan sebagai seseorang yang benar-benar rela berkorban. Ia begitu mencintai api meskipun api tidak mencintainya bahkan memusnahkannya hingga menjadi abu.

Pada bait kedua, kalimat “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana” di sini menjadi sebuah bentuk penegasan terhadap penggambaran tokoh tersebut. Begitupun dengan potongan kalimat setelahnya yang juga sama seperti yang terdapat pada bait sebelumnya. Potongan kalimat yang berbeda terletak pada potongan kalimat “awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”. Sebenarnya, makna yang disampaikan di sini juga tidak jauh berbeda dengan potongan kalimat “kayu kepada api yang menjadikannya abu”. Di sini sang tokoh digambarkan sebagai awan yang mencintai hujan. Awan sebagai pembentuk hujan, namun ketika ia turun maka awan yang sirna, menjadi tiada. Di sini dapat dimaknai bahwasanya ketika awan membentuk hujan yang menjadikan hujan itu ada, kemudian hujan itu meninggalkan awan dan menjadikan awan itu tiada, kehilangan dirinya.

Telaah, dan refleksi pusi “Aku Ingin” ini bisa membentuk berbagai macam pemaknaan. Semua tergantung bagaimana sang pembaca memaknai puisi tersebut dengan latar belakang empiriknya maupun pengetahuannya seputar kesusastraan. Apapun itu, yang jelas puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono ini telah menggugah banyak orang. Ada yang mengekspresikannya dengan menangis, galau, melting, atau berbagai ekspresi lainnya.

Apapun itu, refleksi yang sekiranya bisa saya renungkan dari puisi “Aku Ingin” karya Sapardi ini adalah hendaknya dalam mencintai seseorang kita harus terus tulus dan menghayatinya. Bukan sekedar menjalani suatu hubungan yang tidak didasari oleh perasaan yang tulus sehingga tidak ada kesadaran untuk melakukan pengorbanan.

-Lakon Hidup



Rabu, 18 Mei 2016

Selembar Catatan 19/5

Aku bertanya tentang kebinatangan yang ada di dalam diriku
Yang kadang membuas dan membuat orang lain terluka
Apakah hanya aku yang memilikinya?
Ataukah memang ada dan bersemayam di dalam diri masing-masing kita?
Aku rasa masing-masing kita memiliki kebinatangan yang tumbuh dengan sendirinya
Tumbuh dan besar namun tanpa kita sadar
Padahal kurasa jika ia adalah perkara yang wajar
Kebinatangan itu tak perlu ditanya, sunnatullah namanya
Binatang tidak pernah diberi gelar sebagai penjahat, walaupun ia pemangsa

Lalu aku bertanya, apakah jatuh cinta itu harus selalu terjadi secara terencana?
Seakan-akan kita lupa bahwa perasaan itu ialah yang harusnya paling jujur berkata
Lalu kenapa masih ada jutaan manusia yang menghujat orang yang sedang jatuh cinta?
Membunuh anak kecil yang riang bermain di taman jiwa
Seakan-akan jatuh cinta ialah perkara yang salah
Mereka lupa untuk memanusiakan diri mereka dan orang lain yang sedang merasakannya
Padahal memaksakan perasaan ialah perkara hina
Membunuh perasaan yang ada di dalam diri sendiri demi orang lain
Seakan-akan itu menjadi suatu pengorbanan yang paling mulia
Demi melihat orang lain hidup bahagia
Sementara batin sendiri tersiksa

Pabrik Pengacara, Pukul Tiga
-Lakon Hidup


© BUKAMATA
Maira Gall