Kamis, 26 Mei 2016

Telaah dan Refleksi Puisi “Kau Sangka Aku Muslim”




Kau sangka aku seorang muslim
Sebab kau temukan aku bersembahyang
Padahal kau tidak bisa membaca hatiku
Kau tak tau niatku dibalik sembahyang itu
Kau pikir aku seorang yang sholeh
Karna aku tampak khusyu berpuasa
Sedangkan kau tak mengerti pikiran juga strategi dibalik ibadahku
Bahkan kau tuduh aku kiai atau ustadz
Berdasar peci ,pakaian dan penampilanku
Telitilah manfaat mudarat hidupku
Sebab islam itu kata kerja ,
bukan kata benda yang kaku

(Emha Ainun Najib)

Pertama kali saya menemukan dan membaca puisi ini saya begitu tertegun. Sungguh, puisi karya Cak Nun ini adalah sebuah puisi yang memiliki nilai religiusitas yang begitu tinggi. Tidak begitu panjang, dengan kata-kata yang sederhana dan tidak terlalu berat diksinya namun sarat akan tingginya makna. Saat pertama kali saya membacanya, yang muncul pertama kali adalah rasa malu. Ya, rasa malu ketika saya mempertanyakan keislaman di dalam diri saya. Saya pun yakin, siapapun yang membacanya pasti juga akan memiliki kesan serupa dengan yang saya rasakan.

Dalam puisi ini, Cak Nun mencoba untuk menggambarkan bagaimana sangkaan-sangkaan dan penilaian-penilaian orang terhadap seseorang yang dianggap muslim itu terlalu cepat, terlalu mudah, dan hanya melihat hal-hal yang tampak, terlihat secara kasat mata. Padahal di dalamnya, jauh lebih penting daripada itu ialah bagaimana isi hati dari manusia itu sendiri. Apakah yang sesungguhnya tampak itu merupakan sebuah citraan realitas yang benar-benar sesuai dengan apa yang tersimpan di dalam hati, ataukah hanya citraan hasil rekayasa dari realitas yang tak tampak secara kasat mata. Pesan yang hendak disampaikan di sini adalah urusan ibadah, hanyalah Allah yang berhak menilai. Manusia tidak pernah mendapatkan jaminan pengetahuan mutlak atas isi hati orang lain yang dicitrakan melalui perbuatannya, atau dalam konteks ini ibadah.

Masih dalam konteks yang relevan, selain kritik atas kenampakan perbuatan dan ibadah seseorang, yang lebih terlihat dan kasat lagi adalah berkaitan dengan penampilan. Seseorang bisa lebih mudah dan terlalu cepat menilai orang lain hanya dari penampilannya saja. Seseorang yang berpakaian ala muslim, dinilai sebagai seseorang yang benar-benar muslim, memiliki tingkat religiusitas yang lebih tinggi, lebih alim, dan sebagainya. Padahal di dalamnya, hati dan penghambaan seseorang jauh lebih penting daripada itu semua sebagai sebuah bentuk dan realitas yang kasat mata.  Manusia tidak pernah mendapatkan jaminan pengetahuan mutlak atas isi hati orang lain yang dicitrakan melalui penampilannya atau dalam konteks ini pakaian. Lebih dalam lagi, penilaian atas orang lain yang lebih valid adalah melalui kenampakan mudarat dan manfaat seseorang. Karena itulah kalimat Telitilah manfaat mudarat hidupku menegaskan bahwa realitas yang lebih nyata di balik yang tampak. Dalam bahasa lain, meruhanikan yang materi.

Dua baris terakhir menggambarkan sebuah penegasan dan kesimpulan dari puisi ini. Kalimat  Sebab islam itu kata kerja , bukan kata benda yang kaku  menggambarkan bagaimana sesungguhnya islam sebagai sebuah agama tidak bisa dinilai secara kaku, dipandang secara rigid, dan hanya dinilai berdasarkan pemahaman ilmu dan logika manusia. Islam,  sebagai sebuah kata kerja yang dimaksudkan disini adalah sebagai agama yang tidak bisa dinilai secara sistematis, terstruktur, dan memiliki standar baku. Sebab, logika manusia belum bisa mencapai itu, dan hanya Allah yang memiliki hak preogratif menilai seseorang itu muslim atau bukan, serta iman atau tidak.

Saya kira puisi ini mengandung nilai-nilai dan ajaran tasawuf yang begitu tinggi. Sangat relevan untuk direngungkan dalam suasana yang kontemplatif. Perlu bagi kita untuk mempertanyakan kembali seberapa jauh penghayatan kita atas penghambaan kita kepada Allah. Sudah pantaskah kita disebut sebagai seorang muslim?

Wallahu A’lam Bisshowab

Ditulis dalam rangka memperingati Hari lahir Cak Nun
Beji, 27 Mei 2016
Lakon Hidup







2 komentar

© BUKAMATA
Maira Gall